Seorang anak kecil yang baru masuk sekolah, setelah tiga hari berselang, mogok tidak mau belajar. Orang tuanya coba membujuk dia dengan segala macam daya, dari iming-imingan gula-gula sampai ancaman sapu lidi. Semuanya sia-sia. Setelah didesak-desak`akhirnya dia berterus terang, bahwa dia telah kehilangan hasratnya untuk belajar, sebab ternyata ibu gurunya adalah seorang pembohong.
Coba ceriterakan bagaimana dia berbohong," pinta orang tuanya sambil tersenyum.
"tiga hari yang lalu dia berkata bahwa 3 + 4 = 7. Dua hari yang lalu dia berkata, 5 + 2 = 7. dan kemarin dia berkata 6 + 1 = 7. Bukankah ini semua tidak benar?"
"tiga hari yang lalu dia berkata bahwa 3 + 4 = 7. Dua hari yang lalu dia berkata, 5 + 2 = 7. dan kemarin dia berkata 6 + 1 = 7. Bukankah ini semua tidak benar?"
Permasalahan yang sederhana ini membawa kita kepada apa yang disebut teori kebenaran. Apakah persyaratannya agar suatu jalan fikiran menghasilkan kesimpulan yang benar? Tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar, termasuk anakkecil kita tadi, yang dengan pikiran kekanak-kanakannya mempunyai kriteria kebenaran sendiri. Bagi kita tidak sukar menerima kebenaran, bahwa 3 + 4 = 7; 5 + 2 = 7; dan 6 + 1 = 7, sebab secara deduktif dapat dibuktikan bahwa ketiga pernyataan tersebut adalah benar. Mengapa hal ini kita sebut benar? Sebab pernyataan dan kesimpulan yang ditariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang telah dianggap benar.
Teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria tersebut di atas, disebut teori koherensi. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap bahwa "semua manusia pasti mati" adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa "Si Amin adalah seorang manusia dan Si Amin pasti akan mati" adalah benar pula, sebab pernyataan yang kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
baswartono@gmail.com
baswartono@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar